Friday, May 7, 2010

Sri Mulyani dan Estetika

Would you like to find out what those-in-the-know have to say about tech? The information in the article below comes straight from well-informed experts with special knowledge about tech.
Jakarta (ANTARA News) - Boleh-boleh saja salah satu pentolan total football Johan Cruyff - selain Rinus Michels dan Frank Rijkaard - sejak era 1970-an mengerek panji estetika sepak bola, bahwa sepak bola intipatinya adalah chaos yang dikejar, diperebutkan, dikuasai dan dikontrol agar berbuah gol. Keadaan chaos dijauhi manusia, karena manusia tidak ingin didekap alunan musik berirama dan serba teratur.

Di mata punggawa Belanda, chaos dihadapi, kalau perlu diciptakan, sebab dengan begitu chaos bisa dikuasai dan dikontrol.

Publik penggila bola pun berdecak kagum seraya berkata, "inilah sepak bola buah karya rasionalitas".

Semuanya diabdikan kepada Yang Indah dengan huruf besar. Boleh dibilang sepak bola Belanda menggarap realita lapangan yang chaotic dengan menyuguhkan ritme permainan dengan mengedepankan fantasi yang mengobarkan rasa keindahan.

Yang Indah, artinya mau bertanya mengenai apa yang dinamai dan dialami sebagai yang indah. Inilah yang disebut sebagai estetika sepak bola. Dan Sri Mulyani Indrawati menerapkan tiga rumus dasar estetika.

Bagi Mbak Ani - sapaan akrab Sri Mulyani - keindahan adalah tata harmoni dalam segala sesuatu yang terukur, merujuk kepada filsuf Plato dan Thomas Aquinas.

Kedua, keindahan merupakan kontemplasi dari Sang Indah dengan huruf besar yang mengacu kepada filsuf Plato, Plotinos dan Agustinus.

Ketiga, keindahan ditemukan dalam pengalaman manusia dengan mengarah kepada pendapat Aristoteles dan Thomas Aquinas.

Setelah menjalankan kontemplasi dalam hitungan hari demi hari, menyikapi sorot kasus bailout Bank Century bertubi-tubi, bahkan disebut-sebut sebagai pejabat yang bertanggungjawab atas kebijakan itu, Sri Mulyani memilih melakoni tata harmoni dalam menjalankan laga kehidupan.

Ia memerankan estetika sepak bola dengan mengusung Yang Indah, karena ia memahami untuk memaknai "yang chaotic".

Lihat saja penampilannya yang boleh dibilang indah ketika memasuki lift saat tiba di Kantor Kementrian Keuangan, Jakarta, Rabu (5/8).

Mengenakan busana lengan panjang dan rok selutut, ia melipat kedua tangannya dan meletakannya di badan.

Bahasa tubuh ekpresif yang ingin mengatakan hukum besi dari estetika bahwa seni bukanlah semata benda, tetapi kata.

Ya, estetika adalah kata, karena itu nilai adalah sesuatu yang bersifat subyektif, terpulang kepada manusia yang menilainya.

Ketika estetika dibaca oleh Sri Mulyani, maka setiap orang, setiap kelompok, setiap masyarakat memiliki nilai-nilainya sendiri yang disebut sebagai seni.

Puncak dari makna estetika itu, Bank Dunia memberi pernyataan bahwa ia ditunjuk menjadi Direktur Pelaksana Grup Bank Dunia mulai 1 Juni 2010.

Now that we've covered those aspects of tech, let's turn to some of the other factors that need to be considered.

Bagaimana tidak bermakna estetis dan bernuansa ekspresif? Paling tidak ada dua momen yang membuktikan bahwa ia bersungguh-sungguh ingin mengurai segala peristiwa yang chaotic seputar kasus Century.

Pada 30 November 2009, ia berinisiatif memberikan keterangan kepada KPK terkait kasus Bank Century di Kantor Kementrian Keuangan.

Pada 11 Desember 2009, untuk kali kedua ia berinisiatif memberikan keterangan kepada KPK di Kantor Kementrian Keuangan.

Yang indah justru diucapkannya, sehari sesudah heboh pengunduran dirinya sebagai Menteri Keuangan.

"Nanti akan ada lebih 70 negara di bawah saya. Saya akan tetap bangga dan senang, berita indonesia terbaru sebagai contoh reformasi (birokrasi), jadi (dapat) menunjukkan pada negara berkembang, bahwa reformasi bukan kasus di text book, itu realitas dan terjadi di negara kita ini, Indonesia," katanya dalam sambutan di Kanwil Ditjen Perbendaharaan, Jakarta, Kamis.

Yang juga indah dinyatakan oleh Presiden Bank Dunia Robert Zoellick.

"Ia menteri keuangan yang baik dengan pengetahuan mendalam mengenai isu-isu pembangunan dan peran Bank Dunia," kata bos Bank Dunia itu.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mengungkapkan Yang Indah dengan menyetujui pengunduran diri Menkeu Sri Mulyani.

"Terhadap ini semua, saya harus menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia, bahwa sesungguhnya kita kehilangan salah satu menteri terbaik, menteri keuangan, karena harus berpindah tempat berada dalam jajaran Kabinet berita indonesia terbaru Bersatu (KIB) II, kemudian bertugas atau mengabdi di Bank Dunia," kata presiden.

Sisi estetika dari pernyataan-pernyataan itu merujuk kepada Yang indah dari laga kehidupan: ya, kita harus hidup tanpa utopia lagi.

Tinggalkan segala utopia tentang segala kesempurnaan. Kaum utopis sebaiknya bercermin, impian mereka berakhir dengan kepedihan dan kesuraman. Utopia tidak dapat membuat manusia berkembang.

Sri Mulyani paham betul bahwa utopia berakhir sia-sia, absurd. Yang oke, ia meramu estetika dan total footbal sebagai bagaimana membela dan mempertahankan lini belakang, dan mencoba menarik kemenangan dengan melakukan serangan balik ke jantung pertahanan lawan.

Estetika bola, baginya, ialah melahirkan keteraturan (self organization), yang justru menjadi label dari sepak bola Belanda dengan total football-nya.

Mbak Ani "belajar" dari Michels bahwa serangan dalam laga bola dibangun dari lini belakang. Mbak Ani juga berguru dari Cruyff bahwa serangan perlu diekstremkan dengan dikerahkan dari segala lini.

Post scriptum, berangkat dari heboh seputar Mbak Ani, utopia boleh tiada, tetapi rasanya utopia tidak boleh mati dalam sepak bola.

Sesungguhnya, chaos masih dapat dikontrol menjadi keteraturan, organisasi diri dan keindahan.

Sri Mulyani Indrawati, begitu namanya. Di mata estetika, ia mendekonstruksi seni. Seni bukan semata meniru alam (mimesis), tetapi menciptakan kualitasnya sendiri.

Dan politik adalah seni. (*)

That's how things stand right now. Keep in mind that any subject can change over time, so be sure you keep up with the latest news.

Pencemaran Laut Timor Versus Teluk Meksiko

Are you looking for some inside information on tech? Here's an up-to-date report from tech experts who should know.
Kupang (ANTARA News) - Isu mengenai pencemaran Teluk Meksiko menyusul meledaknya sebuah anjungan minyak milik Trans Ocean Ltd, di bawah kontrak British Petroleum pada Kamis 22 April lalu menggemparkan dunia, karena tidak kurang dari Presiden Barack Obama, menyatakan kepeduliannya. Ledakan anjungan minyak sekitar 80 kilometer dari Pantai Louisiana itu, saban hari memompa minyak mentah 8.000 barel atau setara dengan 336.000 galon minyak ke perairan di sekitarnya. Kebakaran anjungan minyak itu, menyebabkan sejumlah pekerja hilang dan luka-luka setelah berupaya melompat dari ketinggian 100 meter ke laut untuk menyelamatkan diri.

Peristiwa itu menarik perhatian dunia lowongan kerja terbaru dan media barat memberikan porsi khusus untuk liputan tragedi, sekaligus menggambarkan bahwa kebakaran anjungan minyak disertai pencemaran Teluk Meksiko, adalah sesuatu yang sangat serius bagi lingkungan dan karena itu, patut mendapat perhatian.

Koran-koran besar di seluruh dunia lowongan kerja terbaru dan jaringan televisi internasional melaporkan insiden tersebut. Di Indonesia, tidak kurang dari Harian Kompas memuat berita indonesia bukan foto bugil dan foto kebakaran dan pencemaran tersebut pada halaman internasional.

Apakah perhatian masyarakat dunia lowongan kerja terbaru terhadap meledaknya kilang di Teluk Meksiko itu, sebanding dengan peristiwa serupa ketika kilang minyak Montara milik Australia yang bocor di Celah Timor pada Agustus 2009 dan kemudian mencemari Laut Timor hingga ke perairan selatan Indonesia, terutama di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ?

Ketua Yayasan Peduli Timor Barat Ferdy Tanoni menilai reaksi pemerintah berita indonesia terbaru sangat lamban, padahal menyangkut kehidupan ribuan petani dan nelayan di pantai selatan Kabupaten Belu, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Rote Ndao, Sabu Raijua dan Pulau Sumba.

TNI Angkatan Laut akhirnya melakukan pemantauan di wilayah selatan Pulau Rote, namun tidak menggunakan teknologi yang bisa mengukur apakah benar, Laut Timor tercemar hingga ke wilayah perairan berita indonesia terbaru atau tidak. Otorita Keselamatan Maritim Australia (AMSA/Australian Maritime Safety Authority) mengakui adanya pencemaran itu.

AMSA kemudian melakukan tindakan penyelamatan dengan menyemprotkan sejenis cairan yang disebut dispersant untuk menenggelamkan gumpalan minyak mentah di permukaan ke dasar laut. Tindakan itu, mendapat protes dari sejumlah pejabat di NTT, karena menenggelamkan gumpalan minyak ke dasar laut, tetap saja mengancam biota laut dan keseimbangan ekosistem.

Kekhawatiran itu, datang dari Ketua DPRD NTT Ibrahim Agustinus Medah dan Bupati Kabupaten Rote Ndao Lens Haning. Alasan kedua pejabat itu senada yakni gumpalan minyak mentah yang ditenggelamkan ke dasar laut, terseret arus di dasar samudra ke wilayah perarian Indonesia.

Benar saja kekhawatiran itu, karena terbukti para nelayan di Kabupaten Rote Ndao dan Kabupaten Sabu Raijua, menemukan cairan pekat menempel pada rumput laut yang mereka budidayakan, bahkan menjadi sandaran untuk menghidupi keluarga.

Sampai kini, pantai-pantai di Rote Ndao dan Sabu Raijua, belum steril dari minyak mentah, sehingga rumput laut yang dibudidayakan tak tumbuh normal dan berproduksi maksimal.

Tindakan cepat

Dari peristiwa tersebut, diketahui reaksi pihak terkait di Amerika Serikat begitu cepat. Hampir semua kekuatan dikerahkan untuk menangkal sekecil mungkin dampak yang ditimbulkan dari tumpahan minyak yang mencapai 336.000 galon minyak per hari di Teluk Meksiko, padahal di Laut Timor, tumpahan minyak jauh lebih besar dari Kilang Montara yakni 500.000 liter per hari.

Sometimes the most important aspects of a subject are not immediately obvious. Keep reading to get the complete picture.

Dengan volume minyak sebanyak itu, tentu menimbulkan efek pencemaran yang dahsyat di wilayah perairan antara berita indonesia terbaru dan Australia, sampai-sampai terasa di Kabupaten Rote Ndao dan Kabupaten Sabu Raijua, apalagi di pantai selatan Pulau Timor sebagaimana dirasakan nelayan Kolbano di Timor Tengah Selatan.

Pihak berita indonesia terbaru yang dirugikan oleh aktivitas pengeboran minyak lepas pantai di Celah Timor itu, kemudian menyampaikan protes. Ibarat makan nangka, Australia yang menikmati enaknya buah nangka, namun berita indonesia terbaru yang terkena getah.

Bupati Kabupaten Rote Ndao dalam sebuah diskusi di Ba`a mengatakan, pencemaran Laut Timor adalah masalah bangsa Indonesia, bukan masalah rakyat Rote Ndao, sehingga menyerahkannya kepada pemerintah pusat. Dari pembicaraan, Bupati Haning menghendaki semacam penggantian biaya kompensasi atas kerugian yang diderita oleh para nelayan dan petani rumput laut.

Hal yang sama, tentu berlaku juga bagi para nelayan dan petani rumput laut di Kabupaten Sabu Raijua dan pantai selatan Pulau Timor, meliputi Belu, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan dan Kupang. Adakah, kerugian itu mendapat perhatian yang layak dari pemerintah, sebagaimana Presiden Barrack Obama menaruh kepedulian pada insiden di Teluk Meksiko?.

Hingga kini, tidak jelas, apakah pembicaraan antara pemerintah berita indonesia terbaru dengan pemerintah pusat menyepakati adanya biaya kompensasi untuk para nelayan dan petani rumput laut di NTT atau tidak. Mestinya, isu mengenai biaya kompensasi menjadi bahan diplomasi yang dipercakapkan jauh sebelum ada insiden, karena aktifitas pengeboran minyak selalu berpotensi mencemari laut.

Celah Timor di mana terdapat sumur minyak Montara milik Australia memang berada di perbatasan perairan antara Timor Leste dengan Australia, namun jika terjadi pencemaran bukan hanya masyarakat dua negara itu yang rugi, tetapi juga Indonesia.

Buktinya, kerugian terbesar setelah sumur Montara bocor dirasakan oleh masyarakat di selatan Indonesia, bukan Australia, misalnya di Darwin dan Perth.

Sampai dengan pekan lalu, Gubernur Frans Lebu Raya masih melontarkan kegelisahannya soal nasib para nelayan dan petani rumput laut di Rote Ndao dan Sabu Raijua, yang terkena imbas pencemaran Laut Timor, akibat kilang Montara milik Australia bocor pada 21 Agustus 2009 lalu.

Para pejabat daerah, apalagi masyarakat tentu tidak memiliki akses untuk menyampaikan tuntutan kepada Australia dan karena itu berharap bahkan mempercayakan pemerintah pusat untuk melakukan kontak, apakah lewat jalur diplomasi atau cara lain, dengan Australia.

Sebenarnya, banyak pihak menaruh harapan ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan kunjungan ke Canbera belum lama ini. Ikut dalam kunjungan kenegaraan itu Gubernur Frans Lebu Raya, sehingga diharapkan ada percakapan menyangkut pencemaran Laut Timor dengan otoritas Australia.

Akankah, harapan masyarakat NTT untuk mendapat ganti rugi atau biaya kompensasi ini bertepuk sebelah tangan atau isu pencemaran laut kalah oleh isu imigran ilegal yang menjadikan wilayah NTT sebagai transit sebelum memasuki teritori Auatralia ?.

Tampaknya, isu yang kedua mengalahkan pencemaran beserta dampaknya dan boleh jadi, para nelayan yang mulai kesulitan mendapatkan hasil ikan memadai akibat pencemaran dan petani rumput laut yang tidak berdaya menghadapi menurunnya produksi dan kualitas rumput laut, harus berkutat dengan getah nangka yang tidak pernah mereka nikmati buahnya.
(K006/B010)

Of course, it's impossible to put everything about tech into just one article. But you can't deny that you've just added to your understanding about tech, and that's time well spent.

Tuesday, May 4, 2010

Mengukir Umur Sejarah

Are you looking for some inside information on tech? Here's an up-to-date report from tech experts who should know.
You can see that there's practical value in learning more about tech. Can you think of ways to apply what's been covered so far?

Now you can understand why there's a growing interest in tech. When people start looking for more information about tech, you'll be in a position to meet their needs.

Tiada Henti Menebar Edukasi di Merapi

When most people think of tech, what comes to mind is usually basic information that's not particularly interesting or beneficial. But there's a lot more to tech than just the basics.
Magelang (ANTARA News) - Lelaki tua berpeci dan berbaju batik dengan rambut yang sedikit beruban itu duduk di deretan bangku di informasi beasiswa luar negeri gedung yang oleh masyarakat petani setempat dinamai "Gubug Selo Merapi". Gedung itu sebelumnya menjadi bagian dari kompleks sekolah kecil bernama Sekolah Dasar Kanisus Grogol, terletak di Desa Mangunsuko, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar delapan kilometer sebelah barat puncak Gunung Merapi.

Sekitar 13 tahun lalu pihak yayasan yang menaungi sekolah itu mengeluarkan kebijakan menutup operasional sejumlah sekolahnya yang salah satunya SD Kanisus Grogol lantaran jumlah siswa yang semakin sedikit seiring dengan perkembangan kependudukan.

"Tahun 1997 sekolah ini ditutup oleh yayasan, tidak tahu persis alasan penutupan, tetapi secara umum karena jumlah anak yang semakin sedikit, terakhir kalau tidak salah ada 65 anak kelas I hingga VI," kata Supangat (70), mantan Kepala SD Kanisius Grogol (1982-1992) di utara aliran Kali Senowo yang airnya berhulu di kaki Merapi.

Meski akhir cerita cerita dewasa sekolah itu ditutup, rupanya semangat edukasi yang telah ditebarkan melalui kegiatan pembelajaran di sekolah itu tak padam. Masyarakat setempat makin memiliki kesadaran mantap terhadap pentingnya pendidikan.

Mereka terkesan terus bergerak menebarkan nilai-nilai edukasi dalam skala yang makin luas, tidak sekadar pendidikan formal untuk anak-anak Merapi.

Pada Minggu (2/5), Supangat bersama ratusan warga petani holtikultura berasal dari berbagai dusun di lereng Merapi merayakan Hari Pendidikan Nasional 2010.

Perayaan itu sekaligus dikemas untuk pesta rohani pelindung GSPi "Santo Petrus Kanisius", tokoh gereja yang secara khusus bergerak di bidang pendidikan. Perayaan dikemas dalam prosesi anak-anak dan misa kudus dipimpin Romo Singgih Guritno di bangunan terbuka, GSPi.

Bekas ruang kelas masih tersisa, komunitas petani setempat melalui bantuan dari berbagai pihak baik di dalam maupun informasi beasiswa luar negeri negeri secara tekun membangun gedung yang terkesan akrab dengan ekologi Merapi yang kemudian mereka namai GSPi. Gedung itu kini menjadi pusat kegiatan budaya, spiritualitas, religi, dan sosial kemasyarakatan.

Seakan lelaki itu mengenang para murid dan suasana pendidikan ketika sekolah yang berada di tepi jalan menuju Pos Pengamatan Merapi di Desa Babadan, sekitar empat kilometer sebelah barat puncak Merapi itu, masih beroperasi.

"Bahkan tiga anak saya dulu juga sekolah di sini, kepala sekolah yang terakhir Pak Warso (Suwarso, red.), saya Tahun 1992 dipindah menjadi Kepala SD Kanisus Tangkil, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun hingga pensiun Desember 2001," katanya.

Sekolah yang dibuka pada Tahun 1927 itu pernah menjadi tumpuan masyarakat petani setempat antara lain berasal dari Dusun Kajangkoso, Grogol, Bendo, Mangunsuko, Muntuk, Dadapan, dan Semen untuk anak-anak mereka mengenyam pendidikan formal.

Setelah ditutup, katanya, orang tua setempat menyekolahkan anak-anak di SD Negeri Mangunsuko sekitar 200 meter dari lokasi GSPi sedangkan lainnya menyekolahkan di SD Kanisius Tumpang, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, sekitar 10 kilometer dari GSPi.

Meski sekolah itu tutup, komunitas petani setempat tidak menutup buku terhadap proses pembelajaran. Mereka di bawah pendampingan intensif budayawan dan rohaniwan Katolik setempat, Romo Vincentius Kirjito, terus mengembangkan misi pendidikan GSPi.

Sejak beberapa tahun terakhir, GSPi mengembangkan program "live in" terutama untuk anak-anak SLTP hingga perguruan tinggi yang ingin belajar tentang kehidupan desa, pertanian, ekologi, dan komunitas petani Merapi.

Jumlah mereka yang pernah menjalani "live in" di kawasan itu kemungkinan sudah mencapai puluhan ribu anak. Mereka berasal dari berbagai sekolah di kota-kota besar di Pulau Jawa.

Bahkan secara berkala sejumlah sekolah seperti di Yogyakarta, Jakarta, Semarang, dan Magelang mengirim murid-muridnya untuk "live in" minimal selama tiga hari tiga malam di tempat itu. Mereka tinggal di rumah-rumah warga setempat dan menjalani berbagai kegiatan harian para petani baik di rumah maupun di lahan pertanian, sambil menjalani proses edukasi ekologi yang dikembangkan komunitas GSPi.

"Saat ini saja ada enam mahasiswa Universitas Atma Jaya Jakarta yang sedang survei untuk `live in` kawan-kawan mereka," kata tokoh GSPi, Fransiskus Xaverius Sutar.

See how much you can learn about tech when you take a little time to read a well-researched article? Don't miss out on the rest of this great information.

Minimal sebulan sekali, katanya, ada rombongan "live in" baik siswa maupun mahasiswa berasal dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi. Beberapa bulan lalu beberapa mahasiswa berasal dari sejumlah negara juga "live in" di tempat itu.

Program "live in" bukan saja proses penebaran nilai-nilai edukasi kepada anak-anak kota tetapi juga menjadi ajang pembelajaran dan peningkatan sumber daya manusia petani Merapi.

"Kalau sering didatangi tamu tentu kami juga harus menata diri, belajar menjadi tuan rumah yang baik, belajar lebih giat tentang sopan santun, semakin baik dalam merawat rumah dan pertanian agar bisa menjadi bahan belajar mereka secara pantas, dan kalau kami rawat lebih tekun, hasil pertanian menjadi lebih baik. Kami sendiri juga ikut belajar," katanya.

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional 2010, komunitas petani setempat mencanangkan gerakan yang mereka namai "Tabungan Pendidikan Keluarga Petani" sebagai wujud kesadaran masyarakat Merapi terhadap pentingnya pendidikan untuk anak-anak mereka.

"Masyarakat kami semakin menyadari bahwa pendidikan semakin mahal," kata Sutar yang lulus SD Kanisius Grogol pada Tahun 1980 itu dan kemudian melanjutkan pendidikan formal hingga SMA.

Pencanangan gerakan itu ditandai dengan perarakan puluhan anak Merapi mengenakan pakaian jatilan kontemporer diiringi gamelan dari halaman rumah petani di ujung dusun itu menuju Gedung GSPi yang berjarak sekitar 500 meter.

Anak-anak itu membawa puluhan bumbung berbagai ukuran dicat warna merah sebagai tempat celengan. Bumbung diserahkan mereka kepada Romo Singgih sebagai simbol penyerahan gagasan orisinil anak-anak tentang gerakan menabung itu kepada orang tua agar menyisihkan uang receh mereka secara tekun untuk biaya pendidikan.

Prosesi pencanangan gerakan "Tabungan Pendidikan Keluarga Petani" itu ditata oleh seniman petani setempat Susanto.

Setiap keluarga petani memasang bumbung celengan itu di rumah masing-masing. Setiap saat mereka menyimpan uang receh di bumbung dan seminggu sekali menyetorkan kepada pengelola tabungan itu di GSPi untuk selanjutnya dicatat dan disetor ke salah satu bank yang telah mereka sepakati.

"Paling cepat setahun sekali tabungan dibongkar untuk diserahkan kepada warga sebagai biaya sekolah, orang tua yang tidak punya anak juga menabung tetapi ketentuannya lima tahun sekali tabungan mereka dibongkar," kata Sutar yang juga koordinator gerakan "Tabungan Pendidikan Keluarga Petani" itu.

Petani setempat, katanya, menyebut gerakan mereka menabung itu sebagai "ngopeni receh" atau memanfaatkan uang kecil.

"Uang sisa belanja di pasar, uang receh sisa beli pupuk dan bibit tanaman, atau sisa naik angkutan dimasukkan bumbung, ditabung karena kami sadar bahwa pendidikan butuh biaya," katanya.

Romo Singgih mengapresiasi gagasan edukatif komunitas petani setempat berupa tabungan pendidikan itu.

Ia mengemukakan, bukan jumlah tabungan yang relatif banyak yang mereka kejar, tetapi ketekunan mereka mengumpulkan uang receh itu sebagai proses pendidikan bukan saja bagi para orang tua dan anak-anak setempat.

"Tapi bisa menjadi pembelajaran untuk masyarakat dalam skala yang lebih luas, bahwa pendidikan adalah proses yang terus menerus berjalan dan dijalani secara tekun. Ada kesetiaan tentang perhatian terhadap anak, sedikit demi sedikit. Ini proses dan keutamaan yang harus dirawat, kebiasaan ini dihayati sebagai wujud cinta kasih," katanya.

Mungkin saja cita-cita pendidikan oleh komunitas setempat atas anak-anak mereka tidak terlalu muluk.

Setidaknya proses pendidikan yang mereka tebar secara terus menerus di kawasan itu terutama untuk membangun kemandirian, memantapkan identitas kultural, dan jati diri sebagai petani Merapi.

Sekolah mereka memang telah tutup, tetapi pembelajaran mereka tiada berkesudahan.
(M029/J006)

Now you can understand why there's a growing interest in tech. When people start looking for more information about tech, you'll be in a position to meet their needs.

Saturday, May 1, 2010

Ujian Nasional dan Mentalitas Lancung

If you have even a passing interest in the topic of tech, then you should take a look at the following information. This enlightening article presents some of the latest news on the subject of tech.
Jakarta (ANTARA News) - Apakah Anda, anak Anda, atau barangkali keponakan atau tetangga Anda, lulus Ujian Nasional (UN) tahun ini? Tentu jawabnya ada dua, lulus atau tidak lulus. Mari kita simak hasil Ujian Nasional (UN) di sekolah-sekolah kita tahun ini.

Menurut Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, ada 267 SMA/MA/SMK --51 sekolah negeri dan 216 sekolah swasta-- yang 100 persen siswanya tidak lulus UN.

Ada 5.795 sekolah atau 35,17 persen dari total 16.467 sekolah menengah tingkat atas di seluruh Tanah Air yang mengikuti UN, yang seluruh siswanya (418.855 orang) lulus.

Sebaliknya, 7.648 siswa berbagai sekolah seluruh berita indonesia terbaru tidak lulus dan harus mengikuti UN ulang.

Itu data resmi pemerintah.

Walaupun ada UN ulang, mereka yang tidak lulus kadung jatuh mental. Sebagian dari mereka mengekspresikan kekecewaannya secara berlebihan, dari yang mengamuk di sekolah, menagis histeris, hingga mencoba bunuh diri dengan meminum racun serangga.

Kelihatannya sudah menjadi pola. Yang lulus bersukacita, yang tak lulus berduka. Seolah UN adalah medan uji "segala-galanya" sehingga yang tak lulus "habislah sudah."

Persoalannya, berapa persenkah siswa yang lulus dengan cara jujur dan berapa pula yang lulus secara lancung?

Saya jelas menghargai siswa yang tidak lulus karena sangat mungkin mereka jujur, ketimbang mereka yang lulus dengan cara lancung.

Dulu dalam buku Bahasa berita indonesia terbaru tingkat sekolah dasar ada kisah moral tentang juara lancung.

Saya kurang begitu mengerti lancung itu maknanya apa, tahunya hanya "juara lancung," yaitu juara lewat cara-cara yang tidak jujur. Maka saya artikan cara-cara yang tidak jujur itu sebagai lancung.

Tentu saja idealnya lulus secara jujur karena siswa itu memang siap dan bisa menjawab dengan benar soal-soal yang diujikan, bukan menjiplak atau membeli kunci jawaban dari mafia pembocor soal, atau cara lancung lainnya.

Kalau melihat prosesnya, penyelenggaraan UN memang terkesan sangat menegangkan. Bayangkan, polisi diikutkan menjaga sekolah. Sepertinya gawat sekali. Tapi memang, keadaannya bisa gawat manakala kejahatan bisa muncul dari sana.

Selentingan kabar muncul, karena sekolahnya mengejar tarjet kelulusan 100 persen, ada guru yang malah ikut berbuat jahat; memberikan jawaban ke siswanya.

Sekolah-sekolah akan malu, manakala tingkat kelulusan siswanya kecil. Tetapi, sangat disesalkan jika untuk itu, segelintir otang terjebak di jalan ketidakjujuran.  

Persoalannya menjadi sangat serius dan ironis, manakala ketidakjujuran justru berlaku di dunia lowongan kerja terbaru pendidikan. Ini menyangkut mental!

If you don't have accurate details regarding tech, then you might make a bad choice on the subject. Don't let that happen: keep reading.

Dan jika melihat kasus-kasus mafia hukum, mafia pajak, dan segala mafia kejahatan lainnya di negeri ini, maka mentalitas adalah persoalan masa depan bangsa ini.

Kalau pendidikan malah menenggelamkan kejujuran, apa jadinya sumberdaya manusia berita indonesia terbaru kelak? Pandai, cerdas, profesional, modern, tapi sayang bermental korup, karena tradisi tidak jujur telah ditanamkan di sekolah.

Bangsa kita akan semakin keropos, manakala yang dominan masih tetap mentalitas lancung.

Orang kaya mendadak, menjadi demikian dermawan, dipuji masyarakat yang melihat derajat orang dari materi atau kekayaan yang dimilikinya, tapi belakangan diketahui kekayaannya itu hasil korupsi. Alamak!

Mengapa ketidakberesan-ketidakberesan itu terus berlangsung dan dianggap lazim?

Kalau kita baca "Saya Sasaki Shiraishi, Young Heroes: the Indonesian Family in Politics" terbitan 1997, tradisi lancung telah tertanam lama dalam keluarga-keluarga di Indonesia. "Keluarga" dimanipulasi sedemikian rupa sebagai pembungkus tradisi ketidakjujuran.

Shiraishi menyebutkan tiga hal tentang keluarga Indonesia, setidaknya pada masa Orde Baru.

Pertama, berita indonesia terbaru adalah dunia lowongan kerja terbaru koneksi yang maha besar. Masyarakat terbagi ke dalam "kenalan" dan "orang tidak dikenal".

Kedua, dunia lowongan kerja terbaru koneksi dibangun berdasar gagasan "keluarga", justru karena "keluarga" adalah, dan masih menjadi, penanda kosong. Keluarga merupakan lembaga tempat struktur kekuasaan diwujudkan atas nama "cinta dan tanggungjawab".

Ketiga, kekeluargaan, gagasan keluarga atau familisme dibangun di atas pikiran keluarga, dan memfasilitasi "seperti keluarga" dalam organisasi birokrasi modern seperti di sekolah dan di kantor.

Yang ketiga itu cukup menjelaskan perilaku guru pembocor kunci soal UN demi mengangkat citra sekolah. Sang murid adalah anggota keluarga yang harus ditolong, dan sang guru adalah orangtua yang membantunya memberikan kunci jawaban.

Kita diingatkan oleh istilah sinisme "korupsi berjamaah." Mengapa berjamaah? Karena dilakukan bermai-ramai, akibat sistem sudah sedemikian rupa didikte oleh tradisi dan mentalitas lancung.

Saya kira, kita setujui saja apabila ada yang menyatakan "tidak hanya ada satu Gayus di Indonesia." Gayus yang saya maksud adalah Gayus Tambunan, pegawai pajak yang korup itu. Ia puncak gunung es untuk contoh ketidakjujuran yang muncul di antara sekian banyak yang tidak terungkap.

Penegakan hukum itu wajib, tetapi "revolusi kebudayaan" juga perlu. Maksudnya, menyuntikkan tradisi kejujuran di tengah "keluarga Indonesia."

Walaupun mengandung banyak bias feodal, konsep "keluarga" masih bisa dijernihkan sebagai konsep budaya Timur yang antikorupsi.

Dan itu harus mulai ditanamkan kepada anak-anak kita di sekolah-sekolah. Jangan menjadikan mereka "manusia robot yang cerdas", bangunlah fondasi kejujuran pada karakter mereka.

Alfan Alfian, Dosen di FISIP Universitas Nasional, Jakarta

Now you can be a confident expert on tech. OK, maybe not an expert. But you should have something to bring to the table next time you join a discussion on tech.

Gonjang Ganjing Hasil UN di Gorontalo

Do you ever feel like you know just enough about tech to be dangerous? Let's see if we can fill in some of the gaps with the latest info from tech experts.
Gorontalo (ANTARA News) - Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini pengumuman hasil Ujian Nasional (UN) tingkat SMA, SMK dan Madrasah Aliyah di Gorontalo terasa sepi. Tak ada konvoi besar-besaran, siswa yang tertarik mencorat-coret bajunya di tepi jalan pun bisa dihitung dengan jari.

Pengumuman hasil UN kali ini cukup menohok sanubari orang per orang, karena angka kelulusan Gorontalo menduduki peringkat terendah kedua di Indonesia, setelah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ada yang protes, ada yang kecewa, ada yang tertawa sinis, dan yang mempertanyakan kinerja pemerintah dan bahkan ada yang `diam-diam` bangga dengan hasil tersebut.

Pengumunan hasil UN oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Muhamad Nuh menunjukkan bahwa dari 7.157 peserta UN di Provinsi Gorontalo, 3.849 di antaranya lulus, dan 3.308 siswa atau 46,22 persen siswa lainnya harus mengulang.

Mendiknas mengatakan hasil UN informasi beasiswa gratis 2010 yang paling menonjol yaitu di Provinsi Gorontalo. Pada tahun 2009, katanya, tingkat kelulusannya 90 persen lebih, namun hasil UN tahun ini hanya 53 persen.

"Namun, Kepala Dinas Pendidikan Gorontalo, mengatakan, berapa pun turunnya tingkat kelulusan hasil UN, yang paling penting adalah tingkat kejujurannya. Artinya, dari Gorontalo ada contoh komitmen bahwa kejujuran menjadi nomor satu," kata M. Nuh.

Kejujuran vs Kelulusan

Dalam beberapa tahun terakhir, angka kejujuran dan angka kelulusan di daerah tersebut menunjukkan kenyataan yang berlawanan. Tahun 2009 angka kelulusan di Gorontalo mencapai 90 persen, dengan angka kejujuran yang sangat minim.

Akibatnya, tiga sekolah di Kota Gorontalo harus menanggung beban berkepanjangan, karena harus menyelenggarakan UN ulang. Indikasi adanya kebocoran soal dan kunci jawaban menyeruak kala itu.

Tahun 2010, hasil penerapan program unggulan Provinsi Gorontalo yakni pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) kembali diuji. Hampir separuh siswa tak lulus dan sebagai gantinya angka kejujuran di Gorontalo berada di posisi memuaskan.

"Yang penting itu adalah penyelenggaraan UN jujur dulu, mengenai peringkat kelulusan kami masih akan menelusuri apa penyebabnya," ujar Kepala Sub Dinas Pendidikan Menengah Dikpora Provinsi Gorontalo, Abdul Rahman Harun.

Meski Diknas cukup bangga dengan tingkat kejujuran tersebut, lulus SMA dengan cara yang jujur harusnya menjadi harga mati bagi pemerintah daerah, yang selalu menggembar-gemborkan soal pengembangan SDM, sebagai satu dari tiga program unggulan.

Tingkat kejujuran UN di Gorontalo memang bukan isapan jempol belaka. Anak Gubernur Gorontalo yakni Imawan Ismail juga bernasib sama dengan ribuan siswa lainnya. Siswa SMA Negeri I Kota Gorontalo itu harus merasakan getirnya mengulang UN, yang selama ini sudah cukup menghantui para siswa.

"Imawan bukan tidak lulus, tapi harus mengulang bersama dua ratusan siswa lainnya," kata Humas SMAN I Kota Gorontalo, Repi Lambert, Selasa (27/4).

Truthfully, the only difference between you and tech experts is time. If you'll invest a little more time in reading, you'll be that much nearer to expert status when it comes to tech.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa sekolah di salah satu SMA unggulan, dengan fasilitas belajar yang super lengkap, tak menjamin anak didik bisa mendulang sukses pada UN.

Bimbingan orang tua di rumah menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung sang buah hati agar bisa melangkah ke kursi perguruan tinggi.

"Tingkat kejujuran UN di Gorontalo itu jangan diukur dengan ketidaklulusan Imawan, tapi karena kami memang berkomitmen untuk menunjukkan proses penilaian yang lebih baik," kata Kepala Dikpora Provinsi Gorontalo.

Lain Gubernur, lain pula dengan Sekretaris Daerah Provinsi Gorontalo, Idris Rahim. Kali ini Idris bangga dengan anaknya, Regina Rahim, yang justru meraih prestasi dalam UN 2010.

"Regina mendapat peringkat tertinggi UN di kelasnya, dengan nilai rata-rata 8,0," ujarnya sambil tersenyum.

Ia mengakui tak mudah membimbing remaja seusia Regina untuk konsisten dalam belajar. Dirinya bahkan sering terjun langsung memantau kondisi anaknya dalam mempersiapkan diri mengikuti UN.

"Dukungan orang tua akan membuat mereka lebih percaya diri dan belajar bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan," ujarnya.

Gerakan Tolak UN

Hasil UN di Gorontalo yang membelalakkan mata, membuat kontroversi pelaksanaan UN kembali merebak. Siswa-siswa yang lulus, terlebih yang tidak lulus dan siswa yang masih sekolah menyuarakan gerakan tolak UN.

Perbincangan mengenai UN pun hadir dalam berbagai ruang dan waktu.

"Kami para siswa dirugikan dengan sistem penilaian UN, sehingga bagi kami UN tak lebih dari sekedar alat untuk menghantui kami selama ini," kata Indra, salah seorang siswa.

Indra justru setuju, bila penilaian UN juga mempertimbangkan hasil raport siswa dari semester awal hingga akhir. Itu berita terbaru dianggap adil, daripada hanya mempertaruhkan nasib kelulusan siswa pada ujian berstandar nasional.

Nasib sedih 3.308 siswa yang mengulang, tak berlaku di Madrasal Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Gorontalo. Seratus persen siswanya lulus dengan nilai memuaskan. Alhasil, sekolah unggulan tersebut selalu menjadi yang terbaik dalam hasil UN.

MAN tersebut menempati peringkat pertama untuk perolehan nilai mata ujian IPA sebesar 48,83. Seluruh siswa di sekolah ini lulus seratus persen, baik dari mata ujian IPA, maupun dan IPS.

Meski `keadilan` dalam pelaksanaan UN harus ditakar baik-baik, namun pemerintah, DPRD dan orang tua siswa harus secepatnya menemukan formula pendidikan yang tepat. Ini penting agar tak menimbulkan gonjang ganjing dalam dunia lowongan kerja terbaru pendidikan.

(T.D015/H-KWR/S026)

Don't limit yourself by refusing to learn the details about tech. The more you know, the easier it will be to focus on what's important.

Wednesday, April 28, 2010

Sego Njamoer, Kenalkan Lauk Dari Jamur

When you're learning about something new, it's easy to feel overwhelmed by the sheer amount of relevant information available. This informative article should help you focus on the central points.
Surabaya (ANTARA News) Di tangan lima mahasiswa dari berbagai jurusan di Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITS Surabaya, jamur agaknya dapat menjadi lauk (ikan). "Jamur tiram itu dapat menjadi lauk pengganti ikan dan rasanya seperti daging atau bisa juga mirip crispy. Cocok bagi vegetarian," ucap anggota tim, Mahendra Ega Hiquitta.

Bagaimana caranya ?

"Jamur tiram itu cukup dicuci, lalu diiris atau disuwar-suwir sesuai keinginan kita. Hasilnya diberi bumbu yakni tepung, ketumbar, merica, dan garam," ungkapnya.

Ditemui ANTARA News di sela-sela pameran "Bulan Unjuk Prestasi" di Plasa dr Angka ITS Surabaya, ia mengemukakan, ada satu lagi bumbu yang dirahasiakan.

"Yang jelas, kami mengemas apa yang kami sebut Sego Njamoer (nasi berlauk jamur) itu dalam satu porsi nasi dengan harga Rp3.000,00 dengan jamur sebagai pengganti ikan yang rasanya kayak daging," tuturnya.

Ia mengaku dirinya mengembangkan Sego Njamoer bersama empat rekannya yakni Rizki Aris Y., Eko Nur Khafid, Ongga Limatsu, dan Ola Dwi Sandra.

"Karena itu, kami mengikutsertakan Sego Njamoer itu dalam Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) bidang Kewirausahaan," katamahasiswa Jurusan Teknik Fisika FTI itu.

Ia menambahkan pihaknya sengaja merancang Sego Ngjamoer yang cocok untuk kalangan mahasiswa yakni murah dan praktis, tapi bergizi.

"Semboyan kami adalah lezat dan nggak bikin kanker alias kantong kering, tapi jamur tiram yang kami jadikan lauk itu memang memiliki kandungan antitumor," katanya.

Bahkan, berbagai hasil penelitian menyebutkan jamur memiliki kandungan protein hingga 19-30 persen, karbohidrat 50-60 persen, asam amino, vitamin B1, B2, B3, B5, B7, C, mineral kalsium, besi, antitumor, dan antikolesterol.

Wiraswasta pasca-ITS

If you don't have accurate details regarding tech, then you might make a bad choice on the subject. Don't let that happen: keep reading.

Mahendra yang mahasiswa semester 4 itu bertekad untuk mengembangkan Sego Njamoer sebagai sarana berwiraswasta bersama keempat rekannya pasca-ITS (lulus).

"Kami sudah sempat menjualnya dalam pembukaan PIMITS (Pekan Ilmiah Mahasiswa ITS) di Gedung Robotika ITS Surabaya (25/4), ternyata nasi seharga Rp3.000,00 itu laku 160 porsi," ujarnya.

Sukses dalam PIMITS itu membuat mereka ingin membuka stan Sego Njamoer pada sejumlah kampus di Surabaya, kemudian mengembangkan ke mal.

"Kalau kami sudah lulus, kami akan membuka restoran khusus Sego Njamoer atau resto Sego Njamoer," tandasnya.

Bagaimana dengan bahan baku jamur tiram itu sendiri?!

Ega menegaskan bahwa tim Sego Njamoer sudah mendidik belasan santri di Pesantren Reodlotut Muttaqin, Jatirejo, Kabupaten Mojokerto untuk mengembangkan budidaya jamur tiram.

"Kami sudah mengajak para santri itu ke lokasi pembibitan jamur di Jampirogo, Sooko, Kabupaten Mojokerto. Untuk langkah awal, kami membeli 1.500 bibit jamur," katanya.

Dari 1.500 bibit tiram itu, katanya, dalam sehari mampu menghasilkan 6 hingga 7 kilogram jamur tiram dengan keuntungan murni Rp900.000 per hari.

"Kami berencana mengembangkan usaha dengan membeli bibit jamur lagi hingga menjadi 3.000 bibit jamur, apalagi harga bibit jamur hanya Rp2.000,00 per-baglog," tukasnya.

Selain dijual kepada tim mahasiswa ITS, Ega menyatakan para santri dapat menjualnya kepada tengkulak atau menjual langsung kepada masyarakat.

"Kalau dijual kepada tengkulak, harganya Rp8.000,00 perkilogram, sedangkan bila dijual sendiri secara langsung bernilai Rp10.000,00. Kalau dijual ke Surabaya bisa menjadi Rp15.000,00 hingga Rp25.000,00 perkilogram," ujarnya.

Lebih dari itu, kelima mahasiswa ITS dari tim Sego Njamoer itu mengajarkan pentingnya penelitian untuk diaplikasikan menjadi langkah wirausaha bagi dirinya dan masyarakat.
(EMY/P003)

Now that wasn't hard at all, was it? And you've earned a wealth of knowledge, just from taking some time to study an expert's word on tech.